Dinas Pariwisata Manado Dinilai Mandek, Inovasi Minim, Destinasi Stagnan
pionnews.com – Kinerja Dinas Pariwisata Kota Manado kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa tahun terakhir, tidak terlihat gebrakan berarti dari institusi ini dalam mengembangkan sektor pariwisata secara signifikan.
Minimnya program strategis, kurangnya inovasi, serta promosi yang konvensional membuat sektor ini tertinggal dibanding daerah lain di Sulawesi Utara.
Salah satu permasalahan utama adalah belum adanya program jangka pendek dan menengah yang benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kalangan pelaku pariwisata menilai bahwa sejauh ini belum terlihat upaya konkret dalam diversifikasi produk wisata, pengembangan ekowisata, atau kalender event tahunan yang menarik.
“Selama ini hanya sebatas kegiatan seremonial. Tidak ada roadmap yang jelas bagaimana destinasi kita bisa bersaing dengan daerah lain seperti Likupang atau Bunaken di masa lalu,” kata seorang pelaku usaha travel di Manado yang enggan disebutkan namanya.
Kritik juga mengarah pada tidak adanya event pariwisata berskala nasional atau internasional yang bisa mengangkat nama Manado secara luas.
“Event yang ada kecil-kecilan, cenderung lokal, dan tidak pernah dievaluasi dampaknya terhadap kunjungan wisatawan,” tambahnya.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata dinilai belum maksimal memanfaatkan kolaborasi dengan pelaku industri kreatif, travel agent, dan media sosial. Promosi yang dilakukan masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh tren digital yang saat ini dominan dalam dunia pariwisata.
“Harusnya mereka gandeng influencer, travel vlogger, atau bahkan bikin konten kreatif yang konsisten. Tapi yang terjadi justru promosi sporadis dan tidak profesional,” ujar seorang content creator lokal.
Tak hanya soal promosi, revitalisasi destinasi lama pun menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung diselesaikan. Fasilitas umum di sejumlah lokasi wisata seperti Bunaken, Boulevard, hingga kawasan God Bless Park dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan.
Sementara itu, tidak ada destinasi baru yang dikembangkan untuk menjadi ikon pariwisata Kota Manado.
“Kalau orang tanya apa yang baru dari pariwisata Manado lima tahun terakhir, kita sendiri bingung jawabnya,” ujar warga Kelurahan Malalayang.
Terkait anggaran, sejumlah kalangan mempertanyakan efektivitas penggunaan dana APBD yang dialokasikan untuk sektor pariwisata. Mereka menilai sebagian besar anggaran terserap untuk kegiatan internal dan belanja rutin, bukan untuk program yang berdampak langsung pada peningkatan kunjungan dan ekonomi lokal.
“Dana habis tapi tidak kelihatan hasilnya. Harus ada transparansi dan ukuran yang jelas, misalnya peningkatan jumlah wisatawan atau belanja wisata,” kata seorang akademisi dari Universitas Sam Ratulangi.
Saat dimintai konfirmasi lewat pesan Whatspp Kepala Dinas Pariwisata Kota Manado Easther Mamangkey tidak memberikan tanggapan hingga berita ini ditayangkan.



Tinggalkan Balasan