pionnews.com – Pagi itu, Rabu, 24 Juni 2026, suasana di TPA Sumompo, Kecamatan Tuminting, berjalan seperti biasanya. Truk-truk pengangkut sampah datang silih berganti, debu tipis beterbangan, dan aktivitas dimulai sejak matahari belum terlalu tinggi.
Namun pagi itu ada yang berbeda.
Sebelum memulai agenda kerjanya di kantor, Wali Kota Manado, Andrei Angouw, memilih datang langsung ke TPA Sumompo. Bukan untuk seremoni atau peninjauan singkat, melainkan melihat lebih dekat bagaimana kehidupan berjalan di tempat yang selama ini hanya dipahami sebagai lokasi pembuangan akhir.
Ia berdiri memperhatikan proses bongkar muat sampah. Sesekali berbincang dengan para sopir truk yang sejak pagi keluar masuk area TPA. Di kejauhan, puluhan pemulung bergerak cepat mendekati tumpukan sampah yang baru diturunkan.
Di tempat itu, waktu seolah berjalan berbeda.
Begitu sampah jatuh dari bak truk, tangan-tangan terampil langsung memilah: kardus, botol plastik, besi bekas, apa saja yang masih bisa dijual kembali. Bagi sebagian orang itu adalah limbah. Tetapi bagi mereka, itu adalah penghidupan.
Pandangan Wali Kota kemudian tertuju pada seorang perempuan yang sedang merapikan tumpukan kardus hasil pungutannya.
Ia menghampiri.
Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Agustina Togas.
Percakapan singkat yang awalnya biasa, perlahan berubah menjadi cerita panjang tentang bertahan hidup.
Sudah 26 tahun Agustina menjadi pemulung di TPA Sumompo.
Ia berasal dari Sitaro dan kini tercatat sebagai warga Sumompo. Pendidikan formalnya tidak selesai, bahkan ia mengaku tidak menamatkan sekolah dasar.
Tetapi hidup tidak memberi banyak pilihan.
Dari memulung, ia membesarkan empat orang anak. Suaminya kini dalam kondisi sakit dan tidak lagi bekerja, sehingga seluruh beban ekonomi keluarga bertumpu pada dirinya.
Setiap hari ia datang sejak pagi, bertahan hingga siang bahkan sore. Penghasilannya tidak tetap. Semua bergantung pada apa yang ditemukan hari itu.
Ada hari ketika pulang membawa cukup uang untuk makan keluarga. Ada pula hari ketika hasilnya jauh dari harapan.
Namun satu hal yang pasti, TPA menjadi sumber penghidupan yang selama ini menopang keluarganya.
Di tengah percakapan itu, Agustina menyampaikan kalimat yang sederhana tetapi terasa berat.
“Jangan tutup TPA -nya Pak Wali…nanti kita cari kerja di mana?”
Kalimat itu bukan sekadar permintaan.
Itu adalah gambaran bagaimana sebagian masyarakat menggantungkan hidup dari ruang yang sering kali hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan.
Meski hidupnya dihabiskan di antara tumpukan sampah, Agustina menyimpan harapan yang sangat jelas.
Ia tidak ingin anak-anaknya menjalani jalan hidup yang sama.
Dengan suara pelan, ia berkata:
“Anak saya jangan bodoh seperti saya.”
Kalimat itu menjadi penutup percakapan pagi tersebut.
Sebuah pengingat bahwa di balik gunungan sampah, ada orang-orang yang setiap hari bekerja untuk bertahan hidup, memikul keluarga, dan menyimpan harapan sederhana, agar anak-anak mereka bisa memiliki masa depan yang lebih baik.
Pagi di TPA Sumompo pun kembali berjalan seperti biasa. Truk datang dan pergi. Para pemulung kembali bekerja.
Tetapi bagi sebagian orang yang menyaksikan percakapan itu, pagi tersebut mungkin meninggalkan satu pertanyaan yang lebih besar- tentang bagaimana sebuah kota bertumbuh tanpa meninggalkan mereka yang hidup di pinggirannya.



Tinggalkan Balasan