pionnews.com – Tidak adanya perwakilan Kota Manado dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional Tahun 2026 menuai perhatian publik. Pasalnya, ajang tahunan tingkat nasional tersebut selama ini menjadi wadah pembinaan sekaligus pencarian bibit atlet pelajar berprestasi dari daerah.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pembinaan olahraga pelajar di Kota Manado, terutama bagi siswa yang selama ini aktif mengikuti kompetisi olahraga di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Manado, Peter Bart Assa menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya menghadapi kesulitan dalam melaksanakan tahapan seleksi O2SN karena padatnya agenda pendidikan yang berlangsung hampir bersamaan.

“Sepertinya O2SN tidak ada karena tahun ini kami cukup sulit melaksanakan seleksi. Banyak kegiatan prioritas yang persiapan hingga pelaksanaannya terkonsentrasi pada Februari sampai Mei,” ujar Assa, Kamis (21/5/2026).

Ia mengatakan, sejumlah agenda akademik menjadi fokus utama Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah, mulai dari Tes Kompetensi Akademik (TKA), Ujian Sumatif Akhir Jenjang, asesmen sumatif, hingga penguatan literasi dan numerasi siswa. Selain itu, sekolah juga sementara melakukan persiapan menghadapi Olimpiade Sains Nasional.

“Jadi hampir semua tenaga dan konsentrasi sekolah tersita pada kegiatan akademik yang jadwalnya berdekatan,” katanya.

Meski demikian, absennya Manado dalam O2SN tahun ini dinilai berpotensi memberi dampak serius terhadap pembinaan olahraga pelajar. Sebab, O2SN selama ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sarana evaluasi hasil pembinaan olahraga di tingkat sekolah serta ruang bagi siswa untuk mengasah mental bertanding di level lebih tinggi.

Tidak ikut sertanya Manado juga dinilai dapat mengurangi kesempatan atlet pelajar untuk menunjukkan kemampuan dan membuka peluang meraih prestasi di tingkat nasional. Padahal, dari ajang seperti O2SN sering lahir bibit atlet muda yang kemudian berkembang melalui pembinaan berjenjang.

Di sisi lain, kondisi ini memunculkan kekhawatiran menurunnya motivasi siswa dan sekolah yang selama ini aktif melakukan pembinaan olahraga. Sebab, siswa yang telah berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi bisa merasa kehilangan ruang untuk berkembang dan berkompetisi.

Beberapa kalangan juga menilai absennya Kota Manado di O2SN memberi sinyal bahwa sektor non-akademik, khususnya olahraga pelajar, belum mendapat porsi perhatian yang seimbang di tengah padatnya agenda pendidikan akademik.

Selain berdampak pada pembinaan atlet muda, ketidakhadiran Manado dalam O2SN juga berpotensi menghambat proses regenerasi atlet daerah. Ajang tersebut selama ini menjadi salah satu indikator perkembangan olahraga pelajar sekaligus tolok ukur keberhasilan pembinaan di sekolah.

Publik pun berharap pemerintah tetap menyiapkan alternatif pembinaan dan kompetisi olahraga pelajar agar minat dan bakat siswa di bidang non-akademik tetap mendapat ruang pengembangan, meski di tengah padatnya agenda pendidikan tahun ini.