pionnews.com – Suasana di pusat Kota Manado mendadak riuh pada Kamis (6/11/2025). Sejumlah anggota Satuan Polisi Pamong Praja (SatpolPP) terlibat adu mulut dengan buruh bagasi pelabuhan yang tengah mengangkut barang milik penumpang kapal.
Semua bermula ketika petugas Satpol PP menertibkan gerobak dorong yang sedang berada di area publik. Barang-barang di atas gerobak disita karena dikira milik pedagang kaki lima (PKL). Tanpa konfirmasi, petugas langsung bertindak. Namun, beberapa menit kemudian barulah diketahui bahwa gerobak tersebut bukan milik pedagang, melainkan buruh bagasi yang bekerja secara resmi di pelabuhan.
“Mereka pikir itu pedagang, padahal buruh bagasi yang sementara memuat barang penumpang kapal,” kata seorang buruh bagasi kepada wartawan, Jumat (7/11).
Ketegangan tak terelakkan. Beberapa buruh bagasi berusaha menjelaskan, sementara petugas tetap bersikeras menjalankan perintah penertiban. Suara protes mulai meninggi, dan situasi sempat memanas.
Akibat insiden itu, arus lalu lintas di pusat kota Manado macet hampir satu jam. Warga yang melintas mengeluhkan gangguan aktivitas akibat kericuhan yang tak perlu terjadi.
Menurut informasi yang dihimpun, barang yang diangkut buruh bagasi seharusnya tidak termasuk objek penertiban Satpol PP. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2018 tentang Satpol PP, aparat hanya berwenang menertibkan aktivitas yang melanggar peraturan daerah, seperti lapak liar, bangunan tanpa ijin, atau PKL di zona terlarang.
Sementara buruh bagasi pelabuhan merupakan tenaga kerja resmi yang beroperasi di bawah otoritas pelabuhan. Barang yang mereka bawa adalah milik penumpang kapal, bukan untuk diperjualbelikan di area publik.
Tindakan terburu-buru Satpol PP ini pun menuai sorotan. Sejumlah warga menilai insiden tersebut mencerminkan kurangnya ketelitian dan koordinasi antarinstansi, yang akhirnya mencoreng citra pelayanan publik Pemkot Manado.
Dalam konteks pelayanan publik, Satpol PP semestinya tak hanya menegakkan aturan, tetapi juga menerapkan pendekatan humanis dan verifikasi di lapangan. Salah langkah kecil bisa berujung ricuh, seperti gerobak yang disangka lapak, dan kesalahpahaman yang seharusnya tak perlu terjadi.



Tinggalkan Balasan