pionnews.com – Di sudut Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken ada cerita tentang kepedulian yang berjalan tanpa sorotan. Bukan program pemerintah, bukan pula proyek besar. Hanya langkah sederhana yang dilakukan berulang-ulang, diam-diam, namun menyentuh banyak kehidupan.

Nama itu adalah Jein Tatipang.

Selama lima tahun terakhir, ia rutin membagikan beras gratis kepada warga. Setiap enam bulan, bantuan itu kembali hadir menyapa rumah-rumah sederhana, tanpa memandang perbedaan.

“Bukan hanya Kristen atau Islam di Tongkaina, sekarang juga sudah sampai ke Bahowo,” tuturnya pelan saat diwawancara media ini, Senin 30 Maret 2026.

Di balik pembagian itu, ada proses yang dijaga. Jein tidak berjalan sendiri. Ia berkoordinasi dengan para ketua lingkungan, memastikan bantuan benar-benar jatuh ke tangan mereka yang membutuhkan.

Namun bagi sebagian warga, bantuan beras hanyalah awal dari cerita.

Di sebuah sudut Tongkaina, berdiri sebuah rumah yang dulunya tak lebih dari harapan. Kini, bangunan itu kokoh, layak huni. Jein terlibat membangunnya dari nol bukan sekadar memperbaiki, tetapi menghadirkan tempat tinggal baru bagi yang nyaris tak punya.

“Rumah itu kita bangun sampai bisa ditempati,” katanya.

Semua itu dilakukan tanpa anggaran negara. Tanpa proposal. Tanpa proyek.

Jein menegaskan, apa yang ia lakukan murni dari uang pribadi. Bahkan, aksi itu sudah ia jalankan jauh sebelum istrinya, Jemima Wangko, dipercaya menjadi Lurah Tongkaina.

Di luar itu, jejak kepeduliannya tersebar dalam bentuk lain. Jalan kampung yang perlahan terbuka. Bantuan bahan kubur yang diberikan gratis bagi keluarga yang berduka. Hal-hal kecil, tapi berarti besar bagi mereka yang kehilangan.

“Kalau ada yang meninggal, kita bantu. Supaya keluarga tidak terbebani,” ujarnya.

Bagi Jein, hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa jauh bisa dibagikan.

“Saya dan istri tidak perlu kaya. Yang penting cukup. Semakin kita berbagi, saya merasa Tuhan pelihara,” ungkapnya.

Di tengah dunia yang sering gaduh oleh pencitraan, apa yang dilakukan Jein Tatipang justru berjalan dalam kesunyian. Namun dari kesunyian itulah, harapan-harapan kecil terus dijaga tetap hidup, di tengah keterbatasan.