pionnews.com – Pemerintah Kota Manado menjadikan layanan Bus BTS (Buy The Service) sebagai salah satu langkah strategis untuk membantu masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, dalam menghadapi naiknya biaya hidup di kota. Program transportasi massal berbiaya murah ini dinilai mampu memberikan dampak langsung berupa pengurangan pengeluaran harian yang signifikan.

 

Sekretaris Daerah Kota Manado, dr. Steaven Dandel, menegaskan bahwa BTS bukan sekadar layanan transportasi umum, melainkan instrumen pengentasan kemiskinan yang masuk dalam strategi utama pemerintah, menurunkan beban biaya hidup warga.

 

“Contohnya pekerja yang tinggal di Malalayang dan bekerja di Airport. Biasanya mereka akan menghabiskan Rp24.000 sehari untuk transportasi. Dengan BTS, biaya hanya Rp9.000. Artinya ada penghematan Rp.15.000 per hari. Itu langsung terasa bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (24/11/2025) di Hotel Grandpuri Manado.

 

Dengan tarif Rp4.500 yang berlaku untuk perjalanan hingga 90 menit, BTS disebut sebagai salah satu intervensi paling konkret Pemkot Manado dalam mendorong efisiensi pengeluaran rumah tangga, terutama bagi pekerja harian, buruh, hingga keluarga yang berada dalam desil rendah ekonomi.

 

Menurut Dandel, langkah menghadirkan BTS sejalan dengan arah kebijakan Pemkot Manado yang menempatkan penurunan biaya hidup sebagai strategi pertama dalam pengentasan kemiskinan. Pemerintah tidak hanya berbicara soal bantuan sosial, tetapi menghadirkan layanan yang menekan pengeluaran rutin masyarakat.

 

“Setiap rupiah yang bisa dihemat masyarakat khususnya warga berpenghasilan rendah, berpengaruh langsung pada kemampuan meraka bertahan. BTS menjawab kebutuhan itu,” katanya.

Ia menilai transportasi murah adalah kebutuhan mendasar, terutama ketika garis kemiskinan di Manado meningkat signifikan. Tahun ini, garis kemiskinan naik sekitar Rp51.000 per kapita per bulan, dan inflasi yang dirasakan penduduk miskin mencapai hampir 10 persen jauh lebih tinggi daripada inflasi umum kota.

 

Meski BTS telah memberikan dampak penghematan yang nyata, Dandel menegaskan perlunya integrasi sistem data agar manfaat BTS benar-benar dapat diterima kelompok miskin.

Menurutnya, tanpa keterhubungan antara pengguna BTS dan data desil kemiskinan, pemerintah akan sulit membuktikan sejauh mana program ini membantu warga paling rentan.

 

“BTS sudah membantu masyarakat, itu fakta. Tapi kita harus bisa menjawab, berapa persen pengguna BTS adalah penduduk desil 1 – 5? Kalau tidak terkoneksi dengan data, kita tidak bisa mengukurnya,” tambah Dandel.

 

Ia mendorong seluruh perangkat daerah untuk mengintegrasikan data DTKS dan data ekonomi ke sistem digital Manado, sehingga program seperti BTS dapat dilaporkan secara individual dan terukur.

 

Dengan beroperasinya BTS, Pemkot Manado ingin menunjukkan bahwa kebijakan bantuan kepada masyarakat tidak harus selalu berupa pemberian barang atau uang, tetapi bisa melalui penyediaan layanan publik murah yang memberikan penghematan langsung.

 

“BTS ini bukan sekadar bus. Ini adalah cara pemerintah hadir untuk meringankan beban hidup masyarakat,” tegasnya.

 

Ia berharap integrasi data segera diwujudkan agar manfaat BTS terhadap penurunan kemiskinan dapat dibuktikan dengan angka yang akurat.

“Kalau datanya terkoneksi, kita bisa laporkan sekian warga desil rendah terbantu lewat BTS setiap bulan. Itulah pengentasan kemiskinan yang terukur,” pungkasnya.