pionnews.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Manado memfasilitasi dua anak asal Kelurahan Tuminting untuk kembali mengenyam pendidikan setelah sempat putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

Kedua anak tersebut adalah Iniesta Pontoh, yang akrab disapa Nesta, dan Alfalino Mokotika atau Tayo. Keduanya merupakan sepupu yang tinggal di Kelurahan Tuminting. Ibu Nesta dan ibu Tayo merupakan saudara kandung.

Sebelumnya, Nesta dan Tayo sempat terjaring dalam penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Manado karena tidur di atas Jembatan Soekarno. Setelah itu, keduanya menjalani pembinaan di Shelter Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Manado sebelum dikembalikan kepada keluarga masing-masing.

Namun, beberapa hari setelah pembinaan, kedua anak tersebut kembali ditemukan tidur di atas Jembatan Soekarno. Kondisi itu sempat membuat warga menduga mereka merupakan anak terlantar. Padahal, keduanya masih memiliki orang tua dan keluarga yang merawat mereka. Ayah Nesta telah meninggal dunia sehingga ia tinggal bersama ibunya, sedangkan Tayo juga tinggal bersama keluarganya. Mereka diketahui sering bermain di sekitar Pasar Bersehati dan kawasan Jembatan Soekarno.

Saat ditanya alasan tidur di atas jembatan yang dinilai sangat berbahaya, keduanya mengaku merasa mengantuk setelah bermain dan membantu mencari penghasilan dengan menjual kantong plastik di Pasar Bersehati. Sesekali mereka juga memulung untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala DP3A Kota Manado, Meisje Wollah, mengatakan kondisi ekonomi keluarga menjadi penyebab kedua anak tersebut sempat berhenti bersekolah. Sebelumnya, Nesta dan Tayo merupakan siswa SD GMIM 3 Tuminting.

Untuk memastikan hak pendidikan mereka tetap terpenuhi, DP3A Kota Manado telah berkoordinasi dengan pihak sekolah agar keduanya dapat kembali mengikuti proses belajar mengajar.

“Kami telah membawa perlengkapan sekolah untuk mereka, berupa seragam lengkap, tas, sepatu, kaus kaki, dan buku tulis. Mereka juga langsung diarahkan untuk melapor ke sekolah karena besok sudah mulai mengikuti kegiatan belajar,” ujar Meisje Wollah.

Dalam proses pendampingan tersebut, DP3A Kota Manado juga melakukan kunjungan ke rumah keluarga kedua anak serta ke SD GMIM 3 Tuminting. Kunjungan itu didampingi oleh Lurah Tuminting, Kepala Lingkungan III, serta pelayan khusus/Penatua Kolom 9 GMIM Nazareth Tuminting.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, kedua anak itu tetap memiliki cita-cita yang tinggi. Nesta dan Tayo sama-sama bercita-cita menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pemerintah Kota Manado berharap pendampingan yang diberikan dapat menjadi awal bagi kedua anak tersebut untuk kembali menata masa depan melalui pendidikan. Mereka juga diimbau agar tidak lagi tidur di atas Jembatan Soekarno karena dapat membahayakan keselamatan.

“Anak-anak harus tetap semangat belajar. Masa depan masih terbuka lebar, dan harapan tidak pernah hilang,” tutup Meisje Wollah.