pionnews.com – Insiden yang diduga bernuansa intoleransi di kawasan wisata The Nice Play Ground, Desa Sawangan, Minahasa, menuai reaksi luas dari publik. Peristiwa yang terjadi bertepatan dengan momentum suci Paskah itu memicu gelombang kritik, khususnya dari netizen Sulawesi Utara yang ramai-ramai mendesak agar tempat tersebut ditutup.
Kejadian bermula saat sekelompok warga hendak memanjatkan doa sebelum memulai aktivitas bermain bersama anak-anak di area wisata tersebut. Namun, niat itu tidak diizinkan oleh pihak pengelola dengan alasan aturan atau standar operasional prosedur (SOP) perusahaan.
Penolakan itu memantik sorotan karena di sisi lain, di dalam area playland diketahui tersedia fasilitas musala bagi pengunjung Muslim. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan publik terkait konsistensi penerapan aturan oleh pihak pengelola.
Peristiwa tersebut dinilai melukai perasaan umat beragama, terlebih terjadi di momen Paskah yang sakral bagi umat Kristiani. Nilai kearifan lokal “Torang Samua Basudara” yang selama ini menjadi simbol kerukunan di Tanah Minahasa pun disebut-sebut tercoreng oleh insiden ini.
Reaksi keras pun bermunculan di media sosial. Sejumlah netizen mengecam tindakan tersebut dan menyerukan boikot hingga penutupan lokasi wisata itu. Tagar terkait kejadian ini bahkan mulai ramai digunakan sebagai bentuk protes publik.
Sementara itu, salah satu karyawan di lokasi tersebut mengaku menyesalkan kejadian yang terjadi. Ia menyebut keputusan itu diambil karena mengikuti aturan perusahaan, namun secara pribadi merasa bersalah.
“Saya juga Kristen, saya rasa bersalah sudah tidak izinkan mereka berdoa di sini, apalagi ini hari Paskah. Pusat mungkin bisa pertimbangkan SOP itu, takutnya mereka (pelanggan) berikan review jelek ke perusahaan,” ujarnya.
Desakan publik agar dilakukan evaluasi kebijakan terus menguat, seiring harapan agar toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Sulawesi Utara tetap terjaga.



Tinggalkan Balasan