pionnews.com – Studi Kasus: Saluran Air Jalan Hasanudin, Kecamatan Tuminting
Ada satu pertanyaan yang seharusnya membuat setiap anggota dewan gelisah setiap malam sebelum tidur: jika tidak ada kamera, apakah saya masih peduli?
Pertanyaan itu kini punya jawaban konkret, tergambar jelas di sepanjang Jalan Hasanudin, Kecamatan Tuminting, Kota Manado.
Pionnews.com, dalam pemberitaannya Senin (1/9), melaporkan kondisi saluran air di lokasi tersebut yang dangkal dan dipenuhi sedimen sampah dan material lain menumpuk di dalamnya sehingga fungsi drainase nyaris lumpuh. Diperparah lagi, sisa-sisa pohon hasil tebangan dibiarkan begitu saja bertumpuk di bahu jalan, merusak estetika kota yang semestinya bersih dan tertata.
Bagian paling menohok dari laporan ini bukan sekadar kondisi fisik salurannya, melainkan pengakuan warga soal siapa saja yang sebenarnya sudah tahu. Menurut warga Mahawu, Lingkungan 1, yang diwawancara Pionnews.com, saluran itu sudah pernah dilihat langsung oleh Wali Kota saat turun lapangan di lokasi tersebut, namun hingga kini belum jelas siapa yang bertanggung jawab menanganinya, dan kondisi itu sudah berlangsung lama.
Camkan baik-baik, ini bukan soal informasi yang tidak sampai. Ini soal informasi yang sudah sampai bahkan sudah dilihat langsung oleh kepala daerah tapi tetap mengambang tanpa kejelasan tindak lanjut.
Lalu ke mana perginya fungsi pengawasan Komisi III DPRD Kota Manado, yang justru punya kewenangan formal untuk memanggil Dinas PUPR, mendesak kejelasan anggaran normalisasi saluran, dan mengawal realisasinya sampai tuntas?
Jika eksekutif saja sudah turun ke lapangan, tapi legislator yang seharusnya mengawasi kerja eksekutif justru tidak terdengar kabarnya maka publik berhak bertanya, fungsi pengawasan itu sedang ke mana?
Kutipan warga dalam laporan itu bahkan sudah menyertakan peringatan dini yang sangat spesifik: hujan belum lagi turun, tapi ancamannya sudah bisa dibaca jangan menunggu banjir dulu baru mau mengeruk saluran.
Ini adalah kalimat yang semestinya menjadi alarm bagi setiap anggota dewan yang membidangi infrastruktur. Bukan kalimat yang baru dianggap penting setelah videonya viral dan menjadi headline.
Ironinya semakin tajam ketika kita bandingkan, seorang warga biasa di Lingkungan 1 mampu memetakan risiko dengan lebih runtut dan lebih cepat jalan tergenang, rumah terendam, lingkungan kumuh, risiko penyakit seperti diare hingga ISPA dibanding lembaga yang digaji negara khusus untuk memikirkan dan mengawasi persis hal semacam ini.
Pola ini bukan kebetulan, melainkan cermin dari nurani pengawasan yang sudah tumpul. Saluran dangkal dan dipenuhi sedimen bukan kondisi yang muncul dalam semalam ini persoalan yang terbentuk perlahan, dari waktu ke waktu, dan seharusnya terdeteksi jauh sebelum warga harus bersuara ke media untuk didengar.
Jika Komisi III benar-benar menjalankan kunjungan kerja rutin ke wilayah-wilayah rawan banjir seperti Tuminting, kondisi seperti ini semestinya sudah tertangani sebelum sempat difoto wartawan, apalagi sebelum sempat jadi pemberitaan yang mempermalukan kinerja mereka sendiri.
Alih-alih menjemput masalah, yang terjadi adalah pola yang sudah terlalu akrab, warga mengeluh, tak digubris sampai akhirnya media yang turun, memotret, menulis, dan mempermalukan diam-diam siapa saja yang seharusnya lebih dulu bertindak.
Selama fungsi pengawasan hanya bergerak setelah ada laporan media, bukan atas inisiatif sendiri, maka jangan heran jika warga Tuminting dan warga di kecamatan lain yang bernasib sama terus-menerus dipaksa menjadi “tim investigasi” tak dibayar bagi lembaga yang seharusnya bekerja untuk mereka.
Wakil rakyat yang punya nurani semestinya gelisah mendengar satu keluhan dari satu warga di satu lingkungan sempit bukan menunggu sampai keluhan itu menjadi berita, viral, dan berpotensi merusak citra sebelum akhirnya dianggap layak untuk direspons.
Selama musim hujan belum tiba, saluran di Jalan Hasanudin masih bisa dikeruk. Tapi jika pengawasan tetap bergerak dengan kecepatan yang sama seperti sekarang menunggu, menunggu, dan terus menunggu maka pertanyaannya bukan lagi kapan banjir akan datang, melainkan siapa yang akan disalahkan ketika ia benar-benar datang.
Sumber: Pionnews.com, “Saluran Air di Jalan Hasanudin Tuminting Dangkal, Dipenuhi Sendimen”, edisi Senin (1/9).



Tinggalkan Balasan