pionnews.com – Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Manado, Bonyx Saweho, membantah tudingan yang menyebut dirinya melakukan pemukulan terhadap seorang orang tua atlet dalam keributan yang terjadi usai pertandingan Liga Pelajar di Youth Center Manado, Sabtu (5/9).

 

Bonyx menegaskan, dirinya tidak melakukan pemukulan sebagaimana informasi yang beredar. Menurutnya, saat keributan terjadi, ia justru berupaya melerai dan memisahkan pihak-pihak yang terlibat dalam perkelahian.

 

Ia menjelaskan, keributan tersebut bermula setelah pertandingan ketika seorang orang tua atlet asal Sangihe memprotes persoalan piagam penghargaan untuk anaknya.

 

“Selesai pertqndingan, ada satu orang tua atlet dari Sangihe yang protes terkait piagam. Katanya dia sudah lama menunggu,” ujar Bonyx, Minggu (6/9).

 

Menurut Bonyx, pada saat persoalan awal tersebut terjadi, dirinya sedang berada di lantai dua Youth Center. Ia mengaku tengah mengikuti rapat bersama perangkat pertandingan, wasit dan juri.

 

Karena itu, Bonyx menyebut dirinya tidak mengetahui secara langsung apa yang terjadi pada awal persoalan di lantai bawah.

 

Setelah turun dari lantai dua, Bonyx mengatakan dirinya kemudian didatangi oleh orang tua atlet tersebut. Kepadanya, yang bersangkutan menyampaikan kekecewaan terhadap pelaksanaan pertandingan dan mengaku tidak ingin lagi terlibat dalam olahraga tinju.

 

Bonyx mengatakan dirinya mengenal orang tersebut sehingga berusaha menanyakan persoalan yang terjadi.

 

“Saya kenal yang bersangkutan, makanya saya menyapa dan bertanya ada apa. Katanya piagam anaknya tidak ada dan tidak diberikan,” jelasnya.

Mendengar keluhan tersebut, Bonyx mengaku meminta agar persoalan piagam terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pegawai yang menangani administrasi.

 

“Saya jawab, kalau piagam tunggu dulu. Saya mau cek ke pegawai, nanti disuruh print,” ungkapnya.

 

Namun, menurut Bonyx, suasana kemudian kembali memanas. Ia menyebut orang tua atlet tersebut terus menyampaikan protes dengan nada tinggi sambil merokok.

 

Dalam situasi tersebut, lanjut Bonyx, ada seseorang yang menegur agar rokok dimatikan karena yang bersangkutan sedang berbicara dengan Kepala Dispora.

 

“Dia sementara mencak – mencak sambil merokok. Kemudian ada yang menegur, kalo sementara bicara dengan Pak Kadis, rokok dimatikan,” katanya.

Bonyx mengatakan teguran tersebut kemudian memicu reaksi dan situasi berkembang menjadi keributan hingga terjadi perkelahian.

 

Saat perkelahian pecah, Bonyx menegaskan dirinya tidak ikut melakukan pemukulan. Ia mengaku justru mengambil tindakan untuk menghentikan keributan tersebut.

 

“Ketika terjadi perkelahian, saya langsung melerai. Saya memisahkan perkelahian itu. Jadi bukan saya memukul,”  tegasnya.

 

Bonyx juga membantah secara tegas informasi yang menyebut dirinya melakukan pemukulan terhadap orang tua atlet tersebut.

 

Ia meminta masyarakat tidak langsung mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

 

“Bagaimana saya memukul, sedangkan yang bersangkutan saya kenal. Jadi keliru statmen yang mengatakan saya memukul. Di vidio saja tidak ada saya memukul. Jadi jangan menyebar hoaks,” tegas Bonyx.

 

Ia menilai, informasi yang tidak sesuai fakta berpotensi memperkeruh persoalan dan mengganggu suasana kegiatan olahraga yang seharusnya menjadi ruang pembinaan dan kompetisi bagi para atlet pelajar.

 

Bonyx berharap persoalan tersebut tidak berkembang lebih jauh dan seluruh pihak dapat melihat kejadian berdasarkan fakta yang ada.

 

Ia juga mengajak semua pihak, terutama yang terlibat dalam kegiatan olahraga pelajar, untuk menjaga komunikasi dan mengedepankan penyelesaian secara baik apabila terdapat persoalan selama pelaksanaan pertandingan.

 

“Yang penting kita lihat faktanya dan jangan mengambil kesimpulan sepihak. Mari sama – sama menjaga suasana tetap kondusif,” pungkasnya.